Resep Manjur Dapatkan Berat Badan Ideal

TIDAK sulit sebenarnya jika ingin memiliki tubuh langsing dan sehat. Anda hanya perlu mengonsumsi protein tinggi dan mengurangi karbohidrat olahan. Hal itu sudah terbukti dalam penelitian yang baru saja diselenggarakan di Eropa.


Siapa yang tidak ingin memiliki tubuh yang ideal dan sempurna. Namun, karena beberapa hal seperti pola makan yang tidak sehat dan jarang berolahraga, badan semakin melar. Jika Anda sudah bekerja keras untuk menurunkan berat badan tapi belum optimal, sebuah tim peneliti dari Eropa menyarankan untuk mengonsumsi lebih banyak protein dan mengurangi karbohidrat olahan.

Resep ini diyakini ampuh untuk mengikis timbunan lemak. Di antara pria dan wanita yang telah kehilangan sedikitnya 8 persen dari berat badan dengan diet rendah kalori, mereka yang menghabiskan enam bulan berikutnya dengan melakukan diet tinggi protein dan rendah karbohidrat olahan adalah yang paling kecil kemungkinan untuk naik kembali berat badannya.

Para partisipan dibagi dalam beberapa kelompok makan dengan jumlah kandungan protein makanan yang bervariasi, lemak dalam jumlah sedang, dan jumlah karbohidrat yang berbeda-beda dalam kategori tinggi atau rendah glycemic index(GI), yaitu ukuran seberapa cepat makanan diubah menjadi gula dalam darah.

“Apakah hasil studi ini diterjemahkan sebagai saran diet yang berbeda untuk penggunaan yang lebih luas? Saya mau mengatakan bahwa kami masih harus teliti lebih lanjut karena GI benar-benar tidak mudah dan memiliki sebuah perangkat langsung yang dapat digunakan untuk kebanyakan orang,” kata Dr Thomas Meinert Larsen dari Universitas Kopenhagen, salah satu penulis studi tersebut seperti dikutip laman Reuters Health.

GI pada awalnya dikembangkan untuk digunakan penderita diabetes, yang menunjukkan seberapa cepat glukosa darah bisa sampai ke puncak setelah seseorang mengonsumsi makanan tertentu. Makanan yang kadar GI-nya tinggi, roti tawar misalnya, menghasilkan lonjakan cepat dalam glukosa darah.

Sementara kandungan GI yang rendah seperti roti gandum, menyebabkan peningkatan gula darah lebih lambat yang berlangsung untuk jangka waktu yang lebih lama. Kebanyakan label makanan saat ini tidak mencantumkan kandungan GI di dalamnya. “Juga tidak ada informasi yang cukup tentang makanan yang memicu GI yang tersedia di internet,” ujar Larsen.

Dalam penelitian terbaru yang diterbitkan dalam The New England Journal of Medicine ini, Larsen dan rekan-rekannya mengikutsertakan 773 pria dan wanita serta keluarga mereka di delapan negara Eropa Barat. Untuk keluarga, mereka secara acak diminta menjalankan satu dari lima jenis diet dan perawatan tubuh yang berbeda selama 26 minggu.

Tidak ada pembatasan kalori dalam makanan, tapi empat dari jenis diet itu menentukan proporsi protein, lemak, dan karbohidrat olahan seseorang yang seharusnya menjalankan asupan makanan sehari-hari. Satu kelompok tanpa pembatasan makanan sebagai pengendali, sisanya ditugaskan untuk makan makanan dengan kandungan protein yang rendah dan diet tinggi GI, protein rendah dan tinggi GI, protein tinggi dan rendah GI, atau protein tinggi dan tinggi GI.

Pada kelompok partisipan yang rendah protein, orang-orang mengonsumsi 13 persen kalori sebagai sumber protein. Sementara di kelompok tinggi protein, 25 persen dari total energi yang dikonsumsi adalah protein.
Para partisipan di semua kelompok bisa makan sebanyak yang mereka suka. Sekitar 71 persen dari orang dewasa yang mengikuti penelitian ini menyelesaikan studi dengan baik.

Sementara sekitar 26 persen dari kelompok diet tinggi protein dan rendah GI dikeluarkan dari penelitian sebelum selesai, dan 37 persen dari kelompok diet rendah protein dan tinggi GI juga berhenti di tengah jalan. Di antara 548 orang yang menyelesaikan penelitian ini, hanya mereka yang mengonsumsi diet rendah protein dan tinggi GI berat badannya meningkat (rata-rata 1,67 kg atau sekitar 3,7 pon).

Ketika peneliti melihat secara terpisah pada orang-orang dalam kelompok diet protein tinggi, mereka menemukan mereka berkurang beratnya sekitar satu kilogram dibandingkan dengan kelompok rendah protein. Di mana hasil yang sama juga berlaku bagi kelompok diet rendah GI dan tinggi GI. Larsen menunjukkan bahwa setiap orang harus tetap menggunakan akal sehat dalam menerapkan prinsip rendah GI ini.

Menurut dia, selai Nutella rasa hazelnut cokelat sebenarnya memiliki tingkat GI yang rendah dibandingkan wortel rebus, meskipun jelas-jelas bukan termasuk makanan sehat. Karena alasan ini, kata Larsen, orang harus menggunakan konsep GI dalam sebuah kelompok makanan, misalnya memilih gandum bukan roti tawar atau memilih nasi merah dibandingkan nasi putih.

Sementara itu, setiap orang dapat membatasi asupan kalori dan menurunkan berat badan dalam jangka waktu yang pendek.

“Bagian yang paling sulit adalah menjaga itu semua,” kata Dr David Ludwig, Direktur Optimal Weight for Life Program di Children’s Hospital Boston, Amerika Serikat.

“Fakta telah membuktikan bahwa orang yang menjalankan diet protein tinggi dan rendah GI adalah yang paling berhasil dalam menjaga berat badan dari tidak harus menjadi masalah akibat kemauan belaka,” kata Ludwig yang ikut menulis catatan editorial yang menyertai penelitian. “Sifat alami dari diet dan bagaimana diet memengaruhi pokok biologis kita mungkin memiliki banyak hubungan dengan seberapa besar kemungkinan kita mematuhinya untuk tetap diet,” tambahnya.

“Orang yang menjalankan diet tinggi protein dan rendah GI kelihatan suka makan berlebihan, mungkin karena mereka merasa kurang lapar dan lebih energik. Atau hanya menyadari bahwa mereka melakukan (diet) dengan lebih baik. Tidak ada kesuksesan yang lebih baik jika sukses menyangkut berat badan. Orang juga pasti dapat mencoba ini di rumah,” ujar Ludwig.

“Menambahkan satu porsi kacang tanah dan kacang polong ke dalam makanan setiap hari dan kembali mengonsumsi beras olahan akan menghasilkan setidaknya perubahan pola makan sebanyak yang mereka peroleh dalam studi ini,” kata Ludwig.

“Jika setiap orang di Amerika bisa membatasi dua porsi sereal dan menggantinya dengan satu porsi kacang tanah dan satu porsi kacang polong, dampaknya pada kesehatan masyarakat benar-benar akan berpotensi besar, dan itu perubahan dalam jangkauan setiap orang,” ungkap dia.

Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s