Persiapan Menyambut si Kecil

KELAHIRAN seorang bayi di dalam kehidupan pasangan suami-istri (pasutri) tentu menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Agar momen itu juga menyenangkan, sebaiknya lakukan persiapan secara matang, terutama dari segi psikis.
Setiap pasutri tentunya sangat mengharapkan kehadiran buah hati. Idealnya, kehadiran buah hati dirancang dari jauh-jauh hari agar Anda dan pasangan siap dalam hal fisik, mental, maupun materi. Apalagi, setelah akhirnya hamil dan menjelang kelahiran, sang ibu semakin lama pasti semakin degdegan menunggu waktu kelahiran.

Anda tentu sudah rutin mendatangi dokter, selalu minum vitamin prenatal, dan menyiapkan kamar bayi. Itu saja ternyata belum cukup. Persiapan mental juga harus Anda lakukan. Perlu diingat, saat memiliki seorang bayi -entah itu persalinan pertama, kedua, atau bahkan yang kelima– akan memiliki efek mendalam pada hidup Anda dan orang-orang di sekitar Anda.

“Ini merupakan perubahan besar,” kata Claire Lerner LCSW, pakar pertumbuhan anak di Zero to Three, sebuah organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang bertujuan menyosialisasikan program pengembangan hidup yang sehat pada tahun-tahun pertama anak. “Memiliki bayi akan mengubah hidup Anda,” lanjutnya seperti dikutip laman webMD.com.

Lerner menuturkan, pemahaman perubahan hidup saat memiliki bayi sangat penting bagi orang tua (terutama anak yang pertama) untuk mengetahui hal ini sebelumnya. Jika tidak, kata dia, Anda dapat merasa jatuh ketika dihadapkan dengan perasaan tidak aman, cemburu, seperti ditinggalkan atau disalahpahami.

“Mengantisipasi perasaanperasaan jelek tersebut merupakan pengalaman orang tua baru,” ujar Lerner. Sang ibu misalnya, sering lelah dan kewalahan serta dapat merasakan bahwa “tidak ada yang lebih baik” dalam mengurus anak sehingga harus melakukan segalanya sendiri. Sementara ayah mungkin merasa bahwa tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar dan tidak menjadi bagian kehidupan si kecil yang baru lahir.

“Hal itu mungkin berlaku, terutama ketika si ibu sedang menyusui,” kata Lerner. Karena itu, dia menyarankan sang ibu menggunakan pompa payudara untuk memberikan air susu ibu (ASI) sehingga ayah dapat memberikan makan anak atau lebih baik jika ayah dan ibu duduk bersama selama menyusui, bahkan mungkin bernyanyi atau membacakan cerita bagi buah hati.

Komunikasi yang intensif sebelum anak lahir, kata Lerner, sangat perlu untuk berdiskusi bagaimana cara-cara mengatasi sebuah permasalahan saat bayi lahir. “Jika Anda melihat ini sebagai kesempatan untuk menjadi dekat dan bukan merupakan kendala yang akan mendorong Anda berbeda, Anda akan dapat meminimalkan rasa kesendirian yang banyak dirasakan oleh orang tua baru,” ucapnya.

“Cobalah untuk merasakan apa yang orang tua lain mungkin merasakan juga dan kemudian mencari cara bersama-sama (pasangan) untuk mengatasi perasaan itu,” ujar Lerner. Tidak peduli berapa banyak pasangan yang menginginkan memiliki bayi dan merasa bahwa kehidupan mereka adalah dalam rangka mewujudkan hal tersebut, ternyata merupakan tantangan besar.

“Hidup Anda menjadi berantakan dan sering bermimpi aneh karena kelelahan fisik bekerja rumah tangga dan memberikan perhatian kepada bayi. Sering kali stres juga karena mencoba untuk memenuhi semua kebutuhan bayi dan menjadi orang tua sempurna,” tutur Mary Margaret Gottesman PhD RN CPNP, presiden dari National Association of Pediatric Nurse Practitioners. “Bayi mengubah dasar kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.

Namun, kerepotan mengurus bayi akan terbayar dengan kesenangannya yang berlipat ganda. Gottesman mengungkapkan, sejumlah cara untuk menghadapi hal tersebut. Pertama, belilah buku mengenai perawatan bayi dari sumber yang dapat dipercaya dan pahamilah dengan seksama. Lalu, hadirilah kelas program prenatal di klinik atau rumah sakit yang menyelenggarakannya.

Hadirilah kelas yang bukan hanya soal menghadapi persalinan dan melahirkan, datangi juga kelas bagaimana merawat bayi di tahun-tahun pertamanya, menyusui, CPR bayi dan anak, keamanan rumah, dan persoalan apa pun terkait pengasuhan anak di tahun awal kehidupan. Pastikan juga bahwa Anda mengetahui bagaimana menggunakan kursi bayi di mobil Anda, kereta dorong, dan peralatan bayi lainnya.

Berkomunikasi dengan pasangan tentang problem seharihari yang Anda pikir tidak bisa diselesaikan sendiri dapat menurunkan tingkat stres. Soal menumpuknya baju kotor misalnya, segeralah ke laundry atau dry clean. Membersihkan rumah? Hubungi saja penyewa jasa pembersihan atau ajak teman dan tetangga untuk datang ke rumah dan membantu pekerjaan rumah tangga.

Atau cari pengasuh anak yang dibayar per jam untuk membantu belanja kebutuhan dapur, menjaga anak saat Anda tidur siang, atau mengantar anak ikut kegiatan ekskul. Bagaimana dengan memasak? Gunakan bahan makanan beku sehingga bisa disimpan lebih lama dan Anda tidak perlu sering-sering belanja lagi, setidaknya dua minggu. Anda cukup menambahkan menu makanan keluarga dengan salad dalam kemasan atau buah segar.

Yang penting, tetap berkomitmen untuk memprioritaskan pekerjaan rumah tangga untuk setidaknya dua minggu ke depan dibanding pekerjaan kantor, bahkan lebih lama jika mungkin. Selalu belajar dan merawat bayi Anda secara bersama-sama. Juga terus mendorong pasangan untuk menjalankan peran barunya dengan perasaan tulus. Jangan lupa, luangkan waktu untuk pergi keluar bersama pasangan untuk sekadar makan, nonton film, atau melakukan sesuatu yang Anda sukai berdua. Bayi bisa dijaga oleh pengasuh kepercayaan.

Berbicaralah dari hati ke hati dengan pasangan tentang apa kegiatan yang mungkin Anda berat lakukan, apa yang menyenangkan serta apa yang memuaskan tentang kehidupan baru Anda. “Permainan orang tua” ini harus sering-sering Anda lakukan. Anda tidak bisa mencurahkan kasih sayang dengan baik kepada buah hati Anda kalau Anda juga tidak merasakan kebahagiaan itu sendiri.

Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s