Jangan Ada Lagi Diskriminasi Terhadap Remaja

DISKRIMINASI terhadap remaja dari kalangan minoritas tidak hanya menyakitkan dari segi fisik, tetapi juga psikis. Perlakuan tidak adil di lingkungan sekitar juga keluarga besar, dapat membuatnya menderita dan depresi.

Berbeda-beda tetapi tetap satu jua merupakan sepenggal kalimat yang dijunjung tinggi oleh bangsa dan negara ini. Namun kenyataannya di lapangan, terutama dalam pergaulan remaja sehari-hari masih sering kali terjadi diskriminasi antarsesama. Apalagi, melihat era modern kini di mana sering adanya pengelompokan tertentu sesuai dengan adanya perbedaan agama, ras, tingkat usia, ataupun status sosial.

Tidak hanya di lingkungan sekitar, di dalam rumah juga terkadang terjadi praktik diskriminasi. Banyak orang tua yang melakukan pilih kasih terhadap salah satu orang anaknya karena dianggap lebih pintar, lebih baik, dan mudah diatur. Padahal, orang tua yang pilih kasih atau menjalankan sikap favoritisme akan memberikan pengaruh terhadap perkembangan fisik dan jiwa anak kelak saat dewasa.

Sebuah studi baru menemukan, perlakuan diskriminasi yang dialami oleh remaja Amerika Serikat keturunan Amerika Latin dan Asia terbukti dapat memengaruhi nilai-nilai mereka dalam memandang kehidupan serta kesehatan fisik dan jiwa yang berhubungan erat dengan rasa depresi, penderitaan, dan penurunan kepercayaan diri.

Peneliti dari University of California, Los Angeles, Amerika Serikat mewawancarai sekitar 601 siswa sekolah menengah atas yang berusia antara 17 hingga 19 tahun, untuk mencatat setiap peristiwa mdiskriminatif yang mereka alami ataupun komentar yang mereka terima mselama lebih dari dua minggu. Mereka juga diminta untuk mencatat ejala fisik yang diderita, seperti sakit kepala, sakit perut, atau akit umum.

Hasilnya, hampir 60 perut dari partisipan remaja tersebut melaporkan adanya perlakuan diskriminasi dari remaja lain, 63 persen diskriminasi berasal dari orang dewasa dan lainnya mengatakan dirinya mengalami diskriminasi setiap hari. Remaja Amerika Latin melaporkan lebih banyak diskriminasi orang dewasa dibanding remaja campuran Amerika-Asia.

Sementara remaja keturunan Asia melaporkan lebih sering didiskriminasi leh orang dewasa daripada remaja kulit putih keturunan Eropa.
Kedua remaja keturunan Amerika Latin dan Amerika-Asia sama-sama melaporkan lebih banyak mengalami kejadian diskriminasi daripada para remaja kulit putih dari negara lain. Peneliti mengungkapkan, partisipan yang mengalami diskriminasi tingkat tinggi atau paling parah oleh orang dewasa atau sesama rekannya mengaku mengalami nyeri tubuh, rasa sakit, dan gejala kesehatan lainnya, serta lebih rendah nilanya dari rata-rata keseluruhan studi.

Penelitian ini dipublikasikan secara online dalam edisi yang akan datang Journal of Research on Adolescence. Dalam studi ini, para penulis mengungkapkan, diskriminasi dapat menjadi pukulan telak pada remaja. ”Ini (remaja) adalah masa ketika identitas sosial bisa dibilang lebih menonjol dengan sesamanya, berjuang mendefinisikan siapa diri mereka.
Menambahkan ‘lapisan’ diskriminasi bukanlah hal yang mudah bagi mereka untuk menerimanya,” kata salah satu penulis studi, Andrew J Fuligni, seorang profesor psikiatri di UCLA’s Semel Institute for Neuroscience and Human Behavior, Amerika Serikat. ”Diskriminasi secara signifikan dapat mempengaruhi fisik dan jiwa remaja. Di antaranya turunnya rasa kepercayaan diri dan harga diri, meningkatnya depresi, kehilangan dan stres, serta keluhan fisik lainnya,” ujar Fuligni seperti dikutip lawan healthday.com.

”Jadi intinya, diskriminasi sangat berbahaya,” tegasnya.

Di dalam rumah sendiri, praktik diskriminasi juga harus segera ditinggalkan. Orang tua musti mengerti bahwa jika sikap pilih kasih tu terjadi, antara kakak dan adik tidak akan lagi bersikap harmonis, tetapi akan muncul percekcokan dan perselisihan yang akhirnya mengarah pada kebencian sesama anggota keluarga. Karena itu, tindakan sekecil apa pun yang dilakukan orang tua harus benar-benar dipertimbangkan bila berhadapan dengan buah hati kita, baik berupa ucapan maupun perbuatan.

Sebuah penelitian lain mengungkapkan, sikap favoritisme yang dilakukan orang tua memperjelas dampak kesehatan mental anak. Menurut penulis studi Karl Pillmer, seorang gerontolog dari Cornell University, Amerika Serikat, perasaan pilih kasih oleh sang ibu berpengaruh pada perkembangan psikologis anak, bahkan setelah mereka tumbuh dewasa dan memulai keluarga sendiri.

“Tidak peduli apakah Anda termasuk anak emas atau tidak misalnya, persepsi perlakuan tidak adil telah merusak efek untuk semua saudara-saudara Anda,” ujar dia. “Menariknya, jadi anak favorit memiliki beberapa kelemahan yang serius. Itu berdasarkan temuan dalam studi ini,” tambah Pillemer.

“Anak yang disukai orang tua bisa jadi merasa bersalah dan dia dapat mengalami hubungan negatif dengan saudara lain, yang mungkin kesal dan sebal dengan dirinya. Anak yang difavoritkan biasanya mendapatkan perawatan lebih lanjut dan pendampingan orang tua, terutama pengobatan yang mengarah kepada stres,” paparnya.

Terkait anak ke berapa dan jenis anak bagaimana yang menjadi favorit para ibu, Pillemer belum memastikan polanya dan akan terus mencari tahu. “Namun, orang tua cenderung memilih anak tertua atau termuda sebagai lawan dari anak tengah). Mereka biasanya tertarik ke arah anak-anak yang lebih mirip dengan mereka dalam karakteristik pribadi dan nilai-nilai,” ungkap dia.

Pillemer mengatakan bahwa kualitas hubungan antara anak dan orang tua dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap psikologis mereka. “Selain itu, hubungan orang tua dan anak akan berlanjut setelah anak-anak meninggalkan rumah. Karena terus berlanjut, orang tua tidak boleh pilih kasih,” tuturnya.

Anak-anak tetaplah anak-anak dan bahkan setelah mereka menjelma menjadi orang dewasa. Setiap saudara akan membandingkan diri mereka satu sama lain dan mereka membandingkan hubungan mereka dengan ibunya. Adanya sikap pilih kasih juga telah terbukti memiliki pengaruh buruk pada kualitas hubungan saudara kandung setelah mereka dewasa kelak. Orang tua, kata Pillemer, seharusnya tidak menjalankan sikap pilih kasih untuk kepentingan dirinya sendiri.

“Sebagian besar orang tua merasa khawatir dia menunjukkan pilih kasih (jika mereka menyadari hal itu). Idealnya, orang tua harus menghindari pernyataan jelas dengan hanya memberikan kasih sayang dan perhatian kepada satu anak atau membandingkan satu anak dengan yang lain dalam sebuah diskusi keluarga,” tandasnya.

Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s