Pasutri Satu Kantor, Patuhi Rambunya!

PASANGAN suami istri (pasutri) yang bekerja dalam satu atap memang gampang-gampang susah. Bisa bertemu setiap saat memang menyenangkan, tetapi itu juga bisa menjadi bumerang bagi Anda dan pasangan. Kredibilitas dan profesionalitas Anda berdua akan dipertanyakan. Sebab antara urusan pribadi dan profesional memang sulit dibedakan.

Menjawab permasalahan tersebut, Henny E Wirawan MHum Psi, psikolog dari Universitas Tarumanegara Jakarta membeberkan cara pandangnya.

“Kondisi pasutri yang sekantor memang dilematis karena sama-sama memiliki konflik kepentingan yang tinggi. Tapi kalau memang keduanya tetap dibolehkan untuk sekantor, sebaiknya salah satu pasangan tidak diberikan wewenang untuk mengambil keputusan,” kata Henny saat berbincang melalui telepon genggamnya, Jumat (14/11/2008).

Ditambahkan Henny, saat Anda dan pasangan dalam satu kantor, sebaiknya salah satu harus berasal dari level atau divisi yang berbeda.

“Cara memisahkan antara hubungan profesional dan pribadi adalah dengan memisahkan divisi maupun level pasangan tersebut. Sebab kalau tidak, ada konflik kepentingan yang besar. Semisal suami berada di divisi keuangan dan istri berada di divisi pengadaan barang, tentu keduanya dapat memanipulasi dana yang menyebabkan perusahaan merugi. Jadi idealnya memang pasutri tidak bekerja seatap,” paparnya panjang lebar.

Kendati banyak memberikan nilai-nilai negatif, namun Henny mengungkapkan kondisi pasutri yang sekantor pun tetap dapat memberi keuntungan.

“Keuntungan yang diperoleh saat pasutri sekantor ialah dapat berdiskusi mengenai persoalan yang sama dalam perusahaan. Apalagi saat keduanya menjadi owner di perusahaan tersebut, selain dapat berdiskusi tentu dapat saling bekerja sama dengan baik,” paparnya.

Hanya saja, lanjut Henny, kondisi pasutri yang sama-sama menjadi owner di perusahaan juga harus ada garis kepemimpinannya. Artinya keduanya tidak boleh berada di garis yang sama.

“Kalau pasutri sama-sama owner perusahaan, maka ada pemisah agar keduanya tidak memiliki kebijakan yang sama. Semisal suami sebagai Direktur Utama, sementara sang istri sebagai kepala keuangan. Jadi kalau ada persoalan sang suamilah yang menjadi pengambil keputusan terbesar,” tandasnya.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s