Sering Menakuti Anak, Phobia Akibatnya!

ISTILAH phobia berasal dari kata ‘phobi’, yang artinya ketakutan atau kecemasan bersifat tidak rasional yang dirasakan atau dialami seseorang. Phobia merupakan suatu gangguan yang ditandai oleh ketakutan terhadap suatu obyek atau situasi tertentu.

Menurut konsultan ilmiah Christine V Meaty. Psi, phobia dapat dikelompokkan secara garis besar dalam tiga bagian, di antaranya:

1. Phobia sederhana atau spesifik (phobia terhadap suatu obyek atau keadaan tertentu) seperti pada binatang, tempat tertutup, ketinggian, dan lain lain.

2. Phobia sosial (Phobia terhadap pemaparan situasi sosial) seperti takut jadi pusat perhatian. Orang seperti ini senang menghindari tempat-tempat ramai.

3. Phobia kompleks (Phobia terhadap tempat atau situasi ramai dan terbuka misalnya di kendaraan umum atau mal). Orang seperti ini bisa saja takut keluar rumah.

Agar anak Anda yang masih balita tidak mengalami phobia, maka Psikolog Universitas Gadjah Mada ini pun membeberkan trik Jitunya untuk Anda.

Phobia pada orang asing

Di usia-usia awal, anak memang mau digendong atau dekat dengan siapa saja. Namun usia 8-9 bulan, biasanya mulai muncul ketakutan atau sikap menjaga jarak pada orang yang belum begitu dikenalnya. Ini normal, karena anak sudah mengerti atau mengenali orang. Ia mulai sadar, mana orang tuanya dan mana orang lain yang jarang dilihatnya.

Untuk mengatasinya, di usia balita seharusnya rasa takut pada orang asing sudah mulai berangsur hilang karena ia sudah bereksplorasi. Semestinya anak sudah memperoleh cukup pengetahuan untuk menyadari, bahwa tak semua orang asing atau yang belum begitu dikenalnya merupakan ancaman baginya. Biasanya, justru karena orang tua kerap menakut-nakuti, sehingga anak bersikap seperti itu.

“Awas, jangan dekat-dekat sama orang yang belum kamu kenal. Nanti diculik, loh!” Memang boleh-boleh saja orangtua menasehati anak untuk berhati-hati atau bersikap waspada pada orang asing, tapi sewajarnya saja dan bukan dengan cara menakut-nakutinya.

Phobia berenang

Sangat jarang anak usia batita takut air. Kecuali kalau dia pernah mengalami hal tak mengenakkan, semisal tersedak atau malah nyaris tenggelam saat berenang hingga hidungnya banyak kemasukan air.

Untuk mengatasi hal tersebut, lakukan pembiasaan secara bertahap. Semisal, awalnya biarkan anak sekadar merendam kakinya atau menciprat-cipratkan air di kolam mainan sambil tetap mengenakan pakaian renang. Bisa juga dengan memasukkan anak ke klub renang yang ditangani ahlinya, atau sesering mungkin mengajak berenang bersama saudara atau teman-teman seusianya.

Tentu saja sambil terus didampingi dan dibangun keyakinan dirinya, bahwa berenang sungguh menyenangkan dan tak perlu takut. Kalaupun anak tetap takut, jangan pernah memaksa apalagi memarahi, atau melecehkan rasa takutnya. Seperti, “Payah, ah! Berenang kok takut!”

Phobia pada dokter

Mungkin pernah mengalami hal tak mengenakkan seperti disuntik, anak jadi takut pada sosok tertentu. Belum lagi kalau orangtua rajin “mengancam” setiap kali anak dianggap nakal.

“Nanti disuntik Bu Dokter, loh, kalau makannya nggak habis!” atau “Nanti Mama bilangin Pak Satpam, ya!

Anda tak ingin anak phobia dengan dokter, kan? Karena itu cara mengatasinya adalah dengan mengizinkan anak membawa benda atau mainan kesayangannya saat datang ke dokter, sehingga ia merasa aman dan nyaman. Di rumah, orangtua bisa membantunya dengan menyediakan mainan berupa perangkat dokter-dokteran. Biarkan anak menjalani peran dokter dengan boneka sebagai pasiennya.

Secara berkala, ajak anak ke dokter gigi untuk menjaga kesehatan giginya. Tak ada salahnya juga mengajak dia saat orangtua atau kakak atau adiknya berobat gigi. Dengan begitu anak memeroleh informasi bagaimana dan ke mana ia harus pergi untuk menjaga kesehatan giginya. Lambat laun ketakutannya pada sosok dokter justru berganti menjadi kekaguman.

Phobia gelap

Takut pada gelap bisa juga karena anak pernah dihukum dengan dikurung di ruang gelap. Bila pengalaman pahit itu begitu membekas, bukan tidak mungkin rasa takutnya akan menetap sampai usia dewasa. Semisal keluar keringat dingin atau malah jadi sesak napas setiap kali berada di ruang gelap, atau menjerit-jerit kala listrik mendadak padam.

Agar anak tak mengalami hal itu, Anda harus mengatasinya dengan cara saat tidur malam jangan biarkan kamarnya dalam keadaan gelap gulita. Paling tidak, biarkan lampu tidur yang redup tetap menyala. Cara lain, biarkan boneka atau benda kesayangannya tetap menemaninya, seolah bertindak sebagai penjaganya hingga anak tak perlu takut.

Phobia masuk sekolah (Scolionophobia)

Bukan soal mudah melepas anak usia batita masuk playgroup. Sebab, ia harus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Padahal, tak semua anak dapat dengan mudah beradaptasi. Dari pihak orangtua, tidak sedikit pula yang justru tak rela melepas anaknya “sekolah” karena khawatir anaknya terjatuh kala bermain atau didorong temannya.

Untuk mengatasi hal itu, maka Anda harus membiarkan anak menikmati dunia bermain yang sangat indah baginya. Oleh karena itu, dalam proses mendidik anak itu juga harus dilakukan secara bermain dengan santai dan akrab. Jangan mendidik anak-anak secara formal, sebab itu bisa bertentangan dengan perkembangan perilaku kecerdasan anak.

Pada dasarnya semua anak itu adalah cerdas. Jika anak tidak pandai matematika tidak bisa dikatakan bodoh, tetapi ia cerdas di bidang lain seperti bermain musik karena memang potensi unggulnya di bidang itu. Dan ini bisa kita lihat mereka yang sukses itu adalah orang-orang yang cerdas di bidangnya masing-masing.

Jadi sebenarnya anak itu bukan tidak cerdas, tetapi karena sistem pendidikan yang keliru kemudian berakibat pada school phobia pada anak-anak.

Orangtua pun tetap perlu mengantar anak ke sekolah karena ini menyangkut soal pembiasaan. Kalaupun di hari-hari berikutnya ada sekolah-sekolah yang bersikap tegas hanya membolehkan orang tua menunggu di luar, sampaikan informasi ini pada anak. Guru pun harus bisa menarik perhatian anak agar tidak terfokus pada ketiadaan pendampingan orangtuanya dengan bermain. Saat asyik bermain dengan teman-temannya niscaya ia akan lupa.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Sering Menakuti Anak, Phobia Akibatnya!

  1. infogue berkata:

    promosikan artikel anda di infoGue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://www.infogue.com
    http://psikologi.infogue.com/sering_menakuti_anak_phobia_akibatnya_

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s