Tak Pernah Bertengkar? Justru Harus Curiga!

BERTENGKAR adalah fenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga. Jika seseorang berkata, “Saya tidak pernah bertengkar dengan pasangan,” kemungkinannya hanya dua: orang itu belum menikah atau ia tengah berdusta. Bertengkar itu sebenarnya diskusi yang digelontori muatan perasaan.

Jika mengetahui etikanya, dalam bertengkar pun kita bisa mereguk hikmah. Justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam. Perasaan mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan-pesannya kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi!

Maria Herlina Limyati Msi Psi, dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia, mengatakan, sesungguhnya yang jadi masalah bukan pernah atau tidak pernah bertengkar, melainkan bagaimana cara pasangan mengendalikan emosi agar pertengkaran tidak malah menimbulkan berbagai masalah baru dan berakhir dengan negatif. Kuncinya, tak lain, pola komunikasi, interaksi, keterbukaan, dan kepedulian dari masing-masing pasangan.

Jangan Ditahan!

Menurut Maria, tentu saja banyak keuntungan jika tak pernah bertengkar. Suasana rumah kondusif, tenang dan tidak tegang. Tapi suasana hati belum tentu, karena emosi yang tidak tersalurkan atau tidak terbuka, dapat menciptakan iklim psikologis lebih buruk dari pertengkaran itu sendiri. Masalahnya, amarah tak keluar atau tersalurkan.

“Bisa saja si istri yang memendam emosi, kemudian menyalurkan kepada anaknya. Anak salah sedikit, langsung dicubit atau dimarahi. Sementara suami, jika tak bisa menyalurkan emosinya dengan baik, bisa tak betah di rumah dan malah berulah macam-macam di luar rumah,” katanya.

Maria menambahkan, emosi pasangan harus dikelola dengan baik. Nyatakan hal positif atau negatif yang dirasakan. Misalnya, “Aku merasa kesal karena…” Sebutkan alasannya dan jangan malah menyalahkan pasangan atas ketidak nyamanan perasaan yang Anda rasakan.

“Kalau memang ingin bertengkar, lakukan saja, tak perlu dipendam atau ditutupi karena bisa menimbulkan stres. Masalah memang harus diselesaikan dan dicari solusinya. Bicarakan secara baik-baik lalu cari titik temu. Lalu saling memaafkan dan tinggal berserah diri kepada Tuhan. Nyaman bukan?” tutup Maria.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Metroseksual. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s