Makna Bermaaf-maafan di Hari nan Fitri

IDUL Fitri memiliki makna yang sangat mendalam bagi setiap muslim di seluruh dunia. Di hari yang fitri ini semua menjadi suci dan pintu maaf terbuka bagi setiap orang.

Ajang bersungkeman dan bersalaman menjadi tradisi yang lazim dilakukan baik dari anak kepada orangtua, yang muda kepada yang tua, maupun kebalikannya. Hal ini dilakukan untuk saling melebur salah paham, emosional, atau histerikal antara satu orang dengan lainnya.

Sebagai ungkapan permohonan maaf, saling bermaaf-maafan kerap dilakukan oleh seluruh umat Islam. Mengenai hal itu, psikolog Tika Bisono MpSi mengungkapkan pandangannya.

“Idul Fitri semacam proses menjadi produk baru yang di Islam disebut relaunch untuk membuat seseorang refresh dan baru kembali. Karena namanya manusia saat sudah sampai ke titik jenuh maka harus merefleksi diri, dengan diikuti evaluasi diri, seperti itulah makna Lebaran,” ucap Tika saat dihubungi melalui telepon selulernya, Rabu (24/9/2008).

Menurut alumni Fakultas Psikologi Universitas Indonesia ini, sebenarnya makna bermaafan tidak hanya dilakukan di Idul Fitri, namun tahun Hijriah, tahun Saka, atau perayaan agama manapun memiliki makna yang sama. Yaitu untuk berevaluasi melalui saat-saat tersebut, begitulah kita memaknai hidup agar lebih baik lagi. Tapi cara penyampaiannya oleh setiap agama berbeda-beda.

Kendati semua perayaan keagamaan memiliki makna yang sama, lanjut Tika, bermaafan saat Lebaran sebaiknya tidak hanya berlaku untuk hari H saja. Namun, harus selalu dilakukan kapanpun umat muslim berinteraksi dengan manusia lainnya.

“Idul Fitri memang memiliki makna saling bermaaf-maafan, tapi sebaiknya hal itu menjadi pengejewantahan setiap hari. Jadi kesalahan bukan ditumpuk lalu di saat Idul Fitri baru meminta maaf. Kita harus mewarnai hidup tidak dengan simbolik saja, tapi harus perfectif dalam keseharian. Karena saling memaafkan bukan untuk sekali, tapi setiap manusia dalam kehidupannya pasti berbuat salah. Jadi saat berbuat salah, saat itu pula harus meminta maaf,” ungkapnya.

Masih menurut Tika, maaf-maafan ada di hari Senin, Selasa, Rabu, dan di semua hari. Karena setiap problematik manusia itu memang seharusnya saling memaafkan. Tapi, tidak semua manusia dapat melakukan hal itu. Terkadang merasa gengsi hati atau malas ngomong atau bahkan merasa sosial lebih tinggi, sehingga rohnya saling memaafkan belum masuk di dirinya.

“Momentum untuk pencairan itu memang pas di Lebaran. Jadi sungkeman atau bersalaman hanya sekadar simbolis saja, rohnya justru harus menyentuh hati nurani manusia yang bersangkutan sudah saling memaafkan atau belum,” papar mantan Puteri Remaja 1978 ini.

Hal itu dipercaya lantaran ajang sungkeman atau bersalaman hanya sebatas ritual, sementara jika hati belum memaafkan, maka hari yang suci pun tidak dapat dirasakan oleh setiap umat manusia. Karena itu, bermaafan harus dilakukan kapan pun kita melakukan salah.

“Kendati setelah bermaafan kembali melakukan salah, terpenting sudah ada perbaikan, Artinya selama ada pengurangan frekuensi salah dan dosa yang membuat kita harus minta maaf, maka hakikatnya sebagai manusia kita sudah bisa saling memahami,” tandas ibu tiga anak ini.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s