Puasa untuk Meneladani Sifat Allah

Marhaban ya Ramadan… Ucapan selamat datang terlontar menjelang kedatangan bulan suci Ramadan. Marhaban dalam kamus Bahasa Indonesia berarti penghormatan kepada tamu. Selamat datang Ramadan terucap sebagai perwujudan kerinduan pada limpahan kesempatan bagi umat Islam. Kesempatan untuk peningkatan ketaqwaan dan kesempatan untuk memperoleh berkah.

Makna berpuasa secara terminologi adalah menahan diri dari makan, minum, dan upaya mengeluarkan sperma dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari. Hakekat berpuasa lainnya adalah pengendalian diri, dengan kesabaran dan menahan emosi.

Tidak makan, minum, berhubungan badan, maupun pengendalian diri adalah sifat yang dimiliki Allah. Secara lahiriyah manusia dikaruniai beberapa kebutuhan oleh Yang Maha Kuasa. Kebutuhan fa’ali manusia adalah makan, minum, dan hubungan seksual. Kebutuhan yang sama sekali tidak dibutuhkan Allah.

“Dia (Allah) memberi makan dan tidak (diberi) makan (QS. 6:14); dan “Dia (Allah) tidak memiliki teman wanita (istri) (QS. 6:101).

Dengan demikian, berpuasa bisa dipersamakan dengan upaya meneladani sifat Allah, dengan kerahiman Dia, dan sikap meninggalkan hal-hal yang bersifat material, menuju derajat yang paling mulia, ketaqwaan. La’allakum tattaquun, agar kalian (orang beriman yang berpuasa), mencapai derajat taqwa (QS. 2:185), adalah tujuan dari ibadah ini.

Al Hasan Al Basri menggambarkan keadaan orang yang meneladani Tuhan sehingga mencapai ungkapan: “Anda akan menjumpai orang tersebut teguh dalam keyakinan, teguh tapi bijaksana, tekun dalam menuntut ilmu, semakin berilmu semakin merendah, semakin berkuasa semakin bijaksana, tampak wibawanya di depan umum, jelas syukurnya di kala beruntung, menonjol qana’ahnya (kepuasannya) dalam pembagian rezeki, cermat, tidak boros, berhias walaupun miskin, tidak menghina, disiplin, tinggi dedikasinya, dan lain sebagainya.”

Sementara dalam sebuah Hadist Qudsi, disebutkan orang yang mencapai derajat taqwa: “Seorang hamba akan mendekatkan diri kepada-KU (Allah) hingga Aku mencintainya, dan bila Aku (Allah) mencintainya, menjadilah pendengaran-Ku yang digunakannya untuk mendengar, pengelihatan-Ku yang digunakan untuk melihat, tangan-Ku yang digunakannya untuk bertindak, serta kaki-Ku yang digunakannya untuk berjalan.”

*) Disarikan dari Membumikan Alquran karya Quraish Shihab dan sumber lain.

Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s