KENDATI anak sering jatuh dari ketinggian dengan posisi tengkurap tidak ada tanda-tanda patah atau biru-biru pada tubuhnya, Anda selaku orangtua tentu berpikir apakah ada efek sampingnya. Lantas, terbersit di benak apakah perlu dirontgen, mengingat sang buah hati tercinta sering jatuh dengan posisi terlentang.
Menjawab kondisi tersebut, dr Bobby Setiadi Dharmawan, SpA dari RS Harapan Bunda mengungkapkan cara pandangnya.
“Benturan kepala merupakan kejadian yang sering dialami anak dan membuat orangtua khawatir. Sebenarnya hanya sebagian kecil kasus cedera kepala yang dapat mengakibatkan komplikasi jangka panjang. Bahkan pada anak yang mengalami cedera kepala yang lebih berat pun tidak selalu menimbulkan komplikasi di kemudian hari,” ucap dr Bobby.
Namun, sambung dr Bobby, efek benturan kepala sangat bergantung jenis benturan yang akan memengaruhi ada tidaknya atau berat ringannya cedera otak.
“Penyebab cedera kepala berisiko tinggi yang dapat menimbulkan kerusakan otak, antara lain tertabrak atau kecelakaan kendaraan dalam kecepatan tinggi, terjatuh dari tempat sangat tinggi, kepala dibentur-benturkan pada kasus child abuse, terpukul benda tumpul, tajam atau berat. Gejala yang dapat timbul akibat benturan kepala sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala, mual, muntah, memar, perdarahan di kulit, benjol, pusing, pingsan sampai kejang,” paparnya panjang lebar.
Nah setelah sang buah hati terbentur, maka langkah yang harus dilakukan orangtua adalah evaluasi dan observasi. Apakah benturan kepala ringan atau berat? Jika hanya benturan ringan, cukup diobservasi di rumah saja. Istirahatkanlah yang cukup dengan cara menidurkan anak. Balut dengan kain yang bersih selama kurang lebih 10 menit bila ada kulit yang berdarah. Kompres dengan air dingin selama 20 menit di daerah benturan, bila ada benjol atau bengkak.
“Jika benturan kepala berat, segera bawa ke dokter. Observasi selama 2×24 jam dan bawa anak ke rumah sakit bila dia muntah berulang-ulang, kehilangan kesadaran setelah benturan kepala, timbul sakit kepala yang semakin hebat, perubahan tingkah laku seperti tidur terus dan sulit dibangunkan, berjalan sempoyongan, bicara menjadi tidak lancar, keluar darah atau cairan dari telinga atau hidung, perdarahan kulit kepala tidak berhenti setelah dibalut tekan selama 10 menit, kejang,” ungkapnya.
Saat anak terjatuh, tentu Anda harus melakukan tindakan mencari tanda-tanda tulang patah atau memar di dada. Namun sebaiknya perlu diobservasi beberapa saat apakah anak timbul sesak napas, pucat, nyeri dada, pembengkakan di daerah benturan. Apabila terjadi hal-hal tersebut, segera bawa ke rumah sakit. Baik pada benturan dada maupun benturan kepala, pemeriksaan radiografi (foto roentgen) dapat digunakan guna melihat ada tidaknya tulang patah atau retak akibat benturan. Namun pada cedera kepala, foto rontgen tidak dapat melihat kerusakan jaringan otak.
Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, Musikgue & game online untuk para netter Indonesia. Salam!
http://penyakit.infogue.com/anak_kerap_jatuh_timbulkan_kerusakan_otak_